Perkembangan Islam di Indonesia

Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya.

Sejarah Islam Abad Pertengahan

Sejarah perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: priode klasik (650 -1250 M), priode pertengahan (1250 – 1800 M) dan priode modern (1800 – sekarang).Yang dimaksud abad pertengahan ialah tahapan sejarah umat Islam yang diawali sejak tahun-tahun terakhir keruntuhan.

Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman yang utama selain iman kepada Allah swt. Menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, dalam bukunya Wawasan Al-Quran halaman 80, dua rukun iman inilah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Quran. Terbukti al-Quran selalu menyebutkan Iman kepada Hari Akhir dan Iman kepada Allah selalu bersamaan dan berurutan

Iman Kepada Rasul-Rasul Allah

Iman kepada Rasul Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

  • RSS
  • Twitter

Sabtu, Desember 31, 2011

Resolusi di Tahun Baru, Perlukah?

10:53

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS. 13: 11)



Tahun 2011 Masehi sebentar lagi akan meninggalkan kita, dan kita semua akan menjalani tahun yang baru, tahun 2012. Namun, sudah seperti tradisi, kebanyakan dari orang-orang dari kalangan manapun pasti mempunyai tekad beresolusi di tahun yang baru ini. Seperti metamorfosa nya ulat menjadi kupu-kupu. Namun dalam Islam bagaimana hal ini ditanggapi?

Dalam Islam, beresolusi tidaklah harus setiap pergantian tahun saja, bahkan dianjurkan beresolusi ini kita lakukan setiap hari. Dalam sebuah dialog diterangkan...

Seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya.
Anak: "Ayah, bisakah kita tidak berbuat dosa selama satu tahun?"
Ayah: "Ayah rasa tidak bisa anakku"
Anak: "Ayah, bisakah kita tidak berbuat dosa selama satu bulan?"
Ayah: "Sepertinya sih tidak bisa anakku"
Anak: "Ayah, bisakah kita tidak berbuat dosa selama satu hari saja?"
Ayah nya tetap menggelengkan kepala.
Anak: "Satu pertanyaan terakhir dariku. Apakah kita bisa tidak berbuat dosa selama satu jam saja?"
Ayah nya kemudian berpikir lalu menjawab...
Ayah: "Ya, dengan izin Allah, mungkin itu bisa."
Anak: "Kalau begitu, aku akan melakukan kebaikan-kebaikan dari jam ke jam, agar hidupku diisi oleh banyak kebaikan bukan dosa."

Dari dialog diatas dapat kita simpulkan, bahwa berbuat baik dengan beresolusi tidak harus di pegantian tahun saja, bahkan dari jam ke jam. Ketika satu jam pertama kita isi dengan ibadsh, satu jam berikutnya kita isi dengan berbuat baik terhadap sesama. Sehingga hidup kita dari jam ke jam dapat dipenuhi oleh kebaikan. Dan Insya Allah, jika kita meninggal dalam keadaan seperti ini, Allah akan memasukkan kita ke dalam Surganya..Amiin Ya Rabbal Alamin.



Saefudin
Jakarta, 31 Desember 2011

Retweet this button on every post blogger

Rabu, Oktober 26, 2011

Pelajaran Yang Saya Dapat Hari Ini

21:42



Assalamualaikum. Wr.Wb

 
Saudaraku, hari ini saya baru mendapat pelajaran yang sangat berharga. Semoga artikel ini bisa jadi bahan renungan pada diri kita masing-masing.

 
Seperti biasa, pukul 05.30 tadi pagi (26/10) saya berangkat untuk mengajar di salah satu SMA di Jakarta. Keluar dari rumah saya bertemu dengan tetangga saya yang bernama Mas Fahruddin. Dia seorang yang ramah, dan rajin beribadah di masjid. Dia menyapa saya "Pak... Berangkat". Saya jawab "Ya nih mas, duluan ya". Mas Fahruddin biasanya berangkat hampir sama dengan saya, kalau tidak duluan saya atau dia agak belakangan.

 
Namun saudaraku, jikalau ingin tahu. Mas Fahruddin ini berangkat kerja dengan mengayuh sepeda. Padahal jarak yang ditempuh dari rumahnya di bilangan Tangerang Selatan ke tempat kerjanya di daerah Tanah Abang Jakarta Pusat tidaklah dekat. Bisa dibayangkan betapa beratnya ia untuk mencapai tempat kerja. Namun, ketika saya tanyakan mengapa ia tidak menggunakan angkutan massal atau membeli motor saja, katanya uang gajinya lebih baik buat istri dan uang jajan anak saya saja. Sungguh betapa terenyuhnya saya.

 
Kembali lagi ke cerita di atas.
Saya berangkat dan sampai di tempat mengajar seperti biasa, mungkin begitu pula dengan mas Fahruddin. Namun, ketika siang harinya sekitar pukul 11.00, saya mendapat kabar bahwa Mas Fahruddin meninggal karena mengalami kecelakaan kerja di tempat kerjanya. Saya agak terkejut, dikarenakan tadi pagi saya masih bersapa dengannya.

 
Tidak perlu saya jelaskan disini apa yang dialami Mas Fahruddin, karena disini saya ingin mengingatkan kembali bahwa "Kematian bisa datang kapan saja". Bahkan diri kita, tidak ada yang tahu 1 menit, 10 menit, atau beberapa jam lagi bisa saja akan menghadapi pemutus segala kehidupan dunia dan kenikmatannya, yaitu kematian. Seperti hadist:

 
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)," (HR. At-Tirmidzi, hasan menurutnya).

 
Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. (HR. Ad-Dailami)

 


 
Saudaraku,
Coba bayangkan seandainya hari ini, kita berada di posisi Mas Fahruddin. Mungkin sekarang kita sudah tidak bisa membaca artikel ini lagi, entah apa yang kita alami di alam barzah sana.

 
Terakhir dari saya...
Semoga arwah dan ibadah Mas Fahruddin di terima oleh Allah SWT..
Dan untuk kita yang masih diberi kesempatan menghirup nafas sampai saat ini, pergunakan kesempatan hidup kita ini untuk mengumpulkan bekal untuk nanti di akhirat. Syukron telah membaca artikel saya, walaupun sedikit, semoga bisa diambil hikmahnya.

 
Wassalamualaikum Wr.Wb


Retweet this button on every post blogger

Rabu, Agustus 31, 2011

Jikapun Ternyata Hanya Indonesia yang Lebaran Hari Rabu



Jikapun Ternyata Hanya Indonesia yang Lebaran Hari Rabu
Oleh: Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan

Dalam sebuah Diskusi di BBM seorang teman “ngotot” ingin lebaran hari ini (Selasa/30 Agustus 2011), bunyi BBMnya Seperti ini “ Saya Ikut yang Di Mekkah, bukan masalah Jauhnya, Jika ada yang mau ikut Pemerintah Indonesia silahkan, Pegangan saya sangat kuat dimana Rasulullah SAW, jika ada suatu wilayah berbuka puasa (jatuh syawal) maka wajib muslim lainnya mengikuti, dan untuk mendapatkan informasi tersebut sudah banyak tekhnologi canggih yang mempersempit wilayah dan jarak

Itulah salah satu BBM dari seorang teman malam tadi setelah Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan 1 Syawal 1432 H di Indonesia jatuh pada hari Rabu/30 Agustus 2011m sedangkan di BBM lainya dari temen saya seorang Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyampaikan Keputusan sidang Itsbat DSP PKS : (1) Ramadhan 1432 H disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal). Karena Posisi Hilal tidak terlihat diseluruh Indonesia. Kalaupun ada yang melihat, kesaksian mereka tidak dapat diterima secara Manhaji. (2) Idul Fitri 1432 H bertepatan dengan Rabu, 31 Agustus 2011.

Lalu bagaimana penulusuran lebih dalamnya berdasarkan Ilmu Falak, Posisi Hilal pada 29 Agustus 2011 untuk Indonesia sudah diatas ufuk, hanya saja masih kurang dari 2 derajat, sehingga kemungkinan sangat kecil untuk di rukyat, maka solusinya sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin Islam memberikan dua alternatif Ijtihad. (1), Bagi yang menganut Hisab (perhitungan) wujudul Hilal, dapat beridul Fitri 1432 H pada hari selasa, ini dilakukan Muhammadiyah karena wujudul hilal bagi Muhammadiyah tidak melihat penting atau tidak pentingnya 2 derajat tersebut, sehingga ketika terlihat hilal walaupun kurang dari 2 derajat maka jatuhlah 1 syawal, sehingga ijithad inipun tidak bisa disalahkan. (2) Bagi yang menganut Hisab Imkan Rukyat dan Rukyat, diharapkan mengikuti hasil sidang Itsbat Kemenag 29 Agustus 2011 yang menetapkan Ramadhan digenapkan 30 hari, ini juga di tetapkan Dewan Istbat Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera (DS-PKS) dan Dewan Istsbat Nahdatul Ulama, berdasarkan Hadits Rasulullah SAW yang kurang lebih maknanya “jika tidak terlihat dengan jelas maka genapkanlah Puasa hingga 30 hari “Ijtihad inipun tidak salah, dibenarkan secara hukum Islam.

Dalam hal ini saya coba sedikit menguraikan bagi yang memilih 1 Syawal 1432 H di hari selasa/30 Agustus 2011 dari pandangan yang berbeda, Muhammadiyah dan Hizbuttahrir salah satunya berpandangan bahwa 28 Negara di 5 Benua merayakan lebarannya hari selasa yang menurutnya dipastikan menggunakan ilmu Astronomi seperti Indonesia, Asia Tenggara Misalnya Singapura, Thailand, Malaysia , Filipina merayakannya hari selasa, Timur Tengah Seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirate Arabia, Negara-Negara AFRIKA seperti Libya, Lebanon, Palestina,Ghana juga hari Selasa, Kemudian Wilayah Eropa seperti Denmark, Ukraina, Swedia, Inggris, Rusia, Uzbekistan melaksanakan Hari raya Idul Fitri hari Selasa.

Dalil yang Muhammadiyah gunakan adalah metode Hisab Un Sich sebagaimana dalam Twitter Tifatul Sembiring, sedangkan Hizbuttahrir mengikuti keputusan Arab Saudi dan Hadist Rasulullah SAW yang berbunyi “ Dari Abu Umair Ibn Anas Radiallahu Anhu dari Paman-Pamannya yang dari Kaum Anshor, mereka berkata “Pernah terjadi awal syawwal tertutup mendung, sehingga hilal tidak terlihat. Maka kami berpuasa pada pagi harinya. Sore harinya ada rombongan yang datang dan bersaksi di hadapan Rasulullah SAW mereka melihat Hilal Kemarin Sore, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan orang-orang yang berpuasa agar membatalkan puasanya dan pergi ke lapangan sholat Ied pada keesokan harinya (Shahih, HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibn Majah, Ahmad Shahih Al Irwa’ (654) , Mukhtasarnya pada (634) ,

Dari Hadits inilah ditetapkan sebuah kalimat “Jika disebuah Wilayah sudah terlihat Hillal maka wilayah lain mengikutinya tanpa melihat batas wilayah dan Negara”, Salahkah? Sementara saya katakana tidak salah juga karena dalilnya ada, Hadist diatas juga sebagai kekuatan hukum penetapan 1 syawal menggunakan Rukyat, adapaun Mathla ul (Tempat Lahirnya Bulan), sebagian Ulama dari Mazhab Syafi’iyah berpendapat jika satu kawasan telah melihat bulan , maka wilayah yang radiusnya 24 Fasakh dari pusat Rukyat bisa mengikuti hasil Rukyat bisa mengikuti hasil Rukyat tersebut dan tidak perlu mengikuti Rukyat diluar Radius 24 Fasakh tersebut. Bagaimana dengan Indonesia? Aturan ini Tidak Cocok, jika diperlakukan maka Aceh dan Papua akan berbeda hari dalam lebaran, nanti ada 3 hari lebaran di Indonesia, Papua pertama, Jakarta Kedua dan Ketiganya Aceh (Betapa Luasnya Indonesia). Tetapi ada juga yang mempertanyakan soal Jarak yang paling dekat dari Indonesia yang Dewan Istbatnya menetapkan hari Selasa 30 Agustus 2011, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Kok Bisa lebarannya hari ini ?. Makanya soal wilayah dan batas Negara ini Dipertegas dalam Kitab Sayyid Sabiq yang menyatakan “ Menurut Jumhur Ulama Tidak Dianggap adanya Perbedaan Mathla (tempat lahirnya bulan), karena itu. Jika Kapan Saja Penduduk sebuah Negeri melihat HILAL, Maka WAJIB seluruh Negeri Berpuasa

Namun, jika kita tilik lagi lebih dalam hadits tadi disebutkan bahwa sholat Iednya adalah di hari esoknya, artinya, boleh juga, yang jelas pegangan sama kuatnya, selama ini yang paling sering digunakan adalah Jika ada keraguan dalam penetapan Hilal misalnya yang terjadi pada tahun ini, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk menggenapkan puasa 30 Hari, dan ini tidak ada masalah. Toh Ijtihad itu jika benar mendapat 2 Pahala, jikapun salah tetap mendapatkan 1 Pahala, jadi kesimpulannya tidak ada yang berdosa jikapun kita berpuasa hari ini karena sesuai dengan perintah Rasulullah SAW untuk menggenapkan menjadi 30 Hari.

Lalu Bagaimana dengan sikap kita yang akan berlebaran ?

Perlu diingat bahwa kedua putusan tersebut adalah Ijtihad, tetap berpahala jikapun salah karena tidak sembarangan dalam proses pengambilan keputusan. Kita harus memilih yang benar dan mempertanggungjawabkan setiap pilihan kita kelak. Kemudian tetap pegang teguh pada pilihan yang sudah diambil penuh keyakinan dan tetap menjaga Akhlaq mulia dan keutuhan Ummat.

Tetaplah bijaksana melihat perbedaan tanpa mengurangi rasa kebahagiaan, teruslah menjadi pribadi muslim yang terbaik dalam pandangan ALLAH Swt.

Satu lagi, Di Masa Rasulullah SAW saja pernah terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya, yaitu antara Mekkah Madinah (Arab Saudi) dan Syam (Syiria), dan dua hari yang berbeda juga dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitrinya…Kenapa Sekararang kita harus Bergaduh….Nikmati Hidup, dan sandarkan segala perbuatan hanya kepada ALLAH Swt jikapun ternyata Hanya Indonesia yang lebarannya hari Rabu. Jazakallah

Bandung, 30 Agustus 2011


SUMBER: KOMPASIANA.COM




Retweet this button on every post blogger

Diterima di Universitas Indonesia, Jalal Naik Sepeda Ontel





Pati (19/7),Jalal siswa lulusan SMA Negeri 1 Pati 2011 siang ini mulai tunaikan nazarnya mengontel dari Pati sampai ke Depok, karena diterima Universitas Indonesia.

“Menunaikan nazar dan bersyukur pada Allah SWT,” ujar Jalal ketika ditanya perihal aksinya mengontel dari Pati sampai ke Universitas Indonesia menjelang keberangkatannya pukul 10 pagi di halaman SMA Negeri 1 Pati. Dilepas teman dan guru SMA Negeri 1 Pati keharuan dan kebanggaan menyeruak. Dikawal dengan sepeda oleh beberapa kawan – kawannya (Paresmasapa) sampai ke Kudus, Jalal mulai mengayuh sepeda onta hadiah dari orang tuannya.

Jalal yang lolos SNMPTN tulis beberapa waktu lalu ini, diterima Fakultas Ilmu Budaya, program studi sejarah. Ia mengaku awalnya tidak yakin akan diterima Universitas Indonesia, terlebih sebelumnya ia tidak lolos SNMPTN undangan. Karena janji telah terucap, sehingga ia pun bertekad mengayuh sepedanya sampai ke Depok.

Mantap kayuhan sepeda ontelnya menyiratkan semangat menunaikan cita membawa visi dan misi orang tua hingga Jakarta berbekal keyakinan dan doa. “Saya pilih Universitas Indonesia karena disana banyak tersedia beasiswa, orang tua saya hanya seorang wiraswata yang penghasilannya tidak seberapa. Saya sebagai anak pertama, sudah semestinya mikul duwur menndhem jero orang tua saya,” ceritanya lagi. Kemudian saat ditanya perihal tanggapan orangtuanya dengan aksinya ini, Jalal mengaku mereka sangat mendukung dan oke oke saja.

“Dalam kehidupan ini banyak pihak yang tidak memperhatikan kaum jalanan, dengan sepeda kita bisa lebih dekat dengan lingkungan,”lanjut Jalal yang bercita – cita sebagi penulis ditengah kayuhan sepedanya ketika sampai di perbatasan Pati - Kudus. Pit Onto yang sudah disulap oleh rekan dan gurunya telah dilengkapi sebuah box tertutup untuk tempat perlengkapan ibadah, beberapa potong baju dan makanan tak lupa juga dilengkapi kompo dan ban serep.

Perjalanannya ini diperkirakan Jalal akan ditempuh selama 7 hari 7 malam jika gowes santai. Dengan mekanisme, ia akan mengontel setiap usai subuh dan berhenti jam 10 malam. Setelah subuh menjelang, barulah ia menggowes sepedanya. Meskipun ia mengaku baru sekali ke Jakarta, “Saya baru sekali ke Jakarta, tanggal 4 Juli kemarin waktu menyerahkan berkas ke UI. Tapi, saya bisa bertanya ke kantor polisi jika tersesat. Saya juga membawa surat keterangan jalan dari kantor polisi”kata Jalal ringan.

Jalal, mahasiswa jurusan sejarah FIB Universitas Indonesia terus menggowes sepedanya sebagai pelengkap sejarah hidupnya. Jalal anak sejarah yang bersejarah.

Berkibarlah castra jayeswara, Bergerak teruslah putra – putri bangsa , gapai cita genggam dunia.:)

SUMBER: KOMPASIANA.COM


Retweet this button on every post blogger

Ashabu Rayati Su'ud (Pasukan Panji Hitam)

02:38



Generasi Thaifah Manshurah yang Dijanjikan Kemunculannya di Akhir Zaman

Thaifah Manshurah, Senantiasa ada hingga kiamat

Dalam berbagai hadits yang shahih telah dijelaskan bahwa akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang berpegang teguh di atas kebenaran. Mereka melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan konskuen, memperjuangkan tegaknya syariat Islam, dan meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam, baik dari kalangan kaum kafir maupun kaum munafik dan murtadin.

Kelompok Islam ini disebut ath-thaifah al-manshurah atau kelompok yang mendapat kemenangan. Kelompok ini akan senantiasa ada sampai saat bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh kaum beriman menjelang hari kiamat kelak. Kelompok ini diawali dari Rasulullah saw beserta segenap sahabat, berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai imam Mahdi dan Nabi Isa dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasar syariat Islam.

Hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah diriwayatkan banyak jalur dari sembilan belas (19) shahabat. Menurut penelitian sejumlah ulama hadits, hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah telah mencapai derajat mutawatir.

Kelompok umat Islam ini adalah kelompok elit umat Islam. Mereka adalah sekelompok kecil kaum ‘fundamentalis Islam’, di tengah kelompok umat Islam yang telah mulai lalai dari kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah ‘muslim-muslim militan’ yang sangat dikhawatirkan oleh AS dan Barat akan mengancam kepentingan mereka. Rasulullah saw menamakan kelompok ini sebagai ath-thaifah al-manshurah, kelompok yang mendapatkan kemenangan. Penamaan ini merupakan sebuah janji kemenangan bagi kelompok ini, baik dalam waktu yang cepat maupun lambat, baik kemenangan materi maupun spiritual.

Di antara hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah tersebut adalah sebagai berikut:

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu .”[1]

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas urusan Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu.”[2]

Ashabu Rayati Suud, Generasi Akhir Thaifah Mansurah yang dijanjikan

Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.”[3]

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa di akhir zaman, kelompok Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kelompok ini. Parameter kebenaran saat itulah adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits fitnah duhaima’). Sedangkan kelompok Thaifah Manshurah yang memberikan dukungan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud (Pasukan Panji Hitam dari Khurasan).

Benar, membicarakan kemunculan Al-Mahdi tidak bisa terlepas dari membicarakan satu kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai pasukan panji hitam (Ashhabu Rayati Suud / The Black Banner). Kelompok ini memiliki beberapa ciri khusus yang akan lebih memudahkan bagi seseorang untuk mengenalinya. Meskipun demikian, tidak mudah bagi seseorang untuk menjustifikasi kelompok tertentu bahwa mereka adalah Ashhabu Rayati Suud. Sebab ciri-ciri tersebut juga banyak dimiliki oleh banyak manusia dan kelompok, sedang riwayat yang menunjukkan asal keberadaan mereka (Khurasan) merupakan sebuah wilayah luas yang dihuni oleh banyak manusia.

Siapakah sebenarnya Ashahbu Rayati Suud yang kelak menjadi pendukung Al Mahdi ? Benarkah riwayat yang membicarakan kemunculan kelompok ini ?

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan keberadaan kelompok ini, di antaranya adalah sebagai berikut

□ “Akan keluar sebuah kaum dari arah Timur, mereka akan memudahkan kekuasaan bagi Al Mahdi.”

□ “Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatupun bisa menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis).”

□ “Akan keluar manusia dari Timur yang akan memudahkan jalan kekuasaan bagi Al ‘ Mahdi.”

Namun riwayat-riwayat tersebut memiliki cacat dari sisi sanad dan periwayatannya. Sedangkan riwayat tentang Ashhabu Rayati Suud yang sampai pada derajat hasan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban :

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.” Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.[4]

Riwayat tersebut tidak banyak menjelaskan ciri-ciri fisik tertentu secara detil sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lainnya. Tentang maksud perbendaharaan dalam riwayat tersebut Ibnu Katsir berkata, “Yang dimaksud dengan perbendaharaan di dalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka’bah. Akan ada tiga orang putera khalifah yang berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur.

Zaman Kemunculan Ashabu Rayati Suud

Berdasar riwayat Tsauban di atas, kemunculan Ashhabu Rayati Suud adalah di saat kemunculan Al-Mahdi. Riwayat tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan Ashhabu rayati Suud dan embrionya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kemunculan Al-Mahdi. Sebab, kemunculan sebuah kelompok yang kelak mewakili satu-satunya kelompok paling haq di antara kelompok umat Islam yang ada jelas tidak mungkin muncul dengan sekejab, sim salabim. Keberadaan mereka sudah ada dan embrio mereka terus tumbuh di tengah kerasnya kecamuk perang dan debu-debu mesiu. Ciri khas mereka dalam riwayat di atas – memiliki kemampuan membunuh lawan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum sebelumnya – menggambarkan betapa dahsyatnya daya tempur dan strategi militer yang mereka punyai. Riwayat ini juga mengisyaratkan bahwa aktivitas mereka sebelum kemunculan Al-Mahdi adalah perang dan pembunuhan, hal yang menjadi ciri khas thaifah manshurah di akhir zaman.

Riwayat Tsauban di atas juga mengisyaratkan bahwa kemunculan Ashabu Rayati Suud dari Khurasan ini terjadi di saat kematian seorang raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan Ka’bah.

Dalam hal ini, banyak analisa menyebutkan bahwa boleh jadi kondisi itu akan segera menjadi realita demi melihat apa yang saat ini terjadi di Saudi. Adalah Tony Khater[5], seorang analis politik Amerika dengan spesialisasi kajian Timur Tengah khususnya Arab Saudi, telah secara konsisten menyebutkan tentang terpecahnya pemerintahan Arab Saudi menjadi empat kelompok sebelum wafatnya Raja Fahd, seakan-akan kelompok-kelompok itu memunyai pemerintahannya sendiri-sendiri, yaitu pemerintahan Putra Mahkota Pangeran Abdullah, pemerintahan Pangeran Nayef, pemerintahan Pangeran Sultan, dan pemerintahan Pangeran Salman. Dengan wafatnya Raja Fahd, lalu Putra Mahkota Abdullah yang telah berusia 80 tahun naik menjadi raja, maka di bawahnya terdapat tiga pangeran dengan pemerintahannya sendiri-sendiri yang bersiap-siap menggantikannya ketika ia wafat nanti, yaitu Pangeran Nayef, Pangeran Sultan, dan Pangeran Salman.

Jika ini kelak terjadi, akankah ia menjadi tanda kemunculan Al-Mahdi dan menjadi tanda keluarnya Ashabu Rayati Suud? Lalu siapakah kelompok yang layak untuk disebut sebagai Ashabu rayati Suud, kelompok Thaifah Manshurah akhir zaman yang dijanjikan?

Ashabu Rayati Suud akan muncul dari timur Khurasan, benarkah mereka Thaliban dan Al-Qaeda ?

Kemunculan salah satu tandhim askari kaum militan fundamental di wilayah Khurasan (Afghanistan, Iraq dll) yang dikenal dengan Thaliban dan Al-Qaeda memunculkan pertanyaan, benarkah mereka adalah calon Ashhabu Rayati Suud yang dijanjikan? Pasalnya, kelompok ini adalah satu-satunya kaum militan muslim yang paling ditakuti oleh barat karena kehebatan tempur mereka, juga karena cita-cita mereka yang radikal; mendirikan negara Islam dari ujung Asia Tenggara hingga barat Maroko. Mereka adalah muslim fundamental yang paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah saw. Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman internasional, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realitas hidup mereka.

Beberapa analis pemerhati hadits-hadits fitnah menduga; bahwa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelar kehormatan itu sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi.

Dalm hal ini, terlepas dari tepat atau melesetnya dugaan-dugaan tersebut, ada hal lain yang lebih penting untuk dipahami oleh seorang muslim berkaitan dengan dua kelompok fundamental ini. Setiap muslim hendaknya berhati-hati untuk tidak menjatuhkan vonis tertentu pada kelompok-kelompok yang secara lahir memiliki stigma dan citra negatif dari musuh-musuh Islam –bahkan dari kalangan umat Islam sendiri- bahwa hal itu bukan berarti keadaan mereka adalah sebagaimana tuduhan itu. Merupakan sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam dari bangsa barat memiliki dendam dan kebencian kepada setiap muslim yang memegang teguh agama mereka. Dalam hal ini, kelompok Thaliban dan Al-Qaeda yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat tentang “kekejian dan kejahatan” Thaliban terhadap manusia.

Tanpa bermaksud memastikan apakah Thaliban merupakan termasuk kelompok Ashhabu Rayatis Suud, yang pasti bahwa memberikan tuduhan jahat dan keji yang belum tentu demikian kenyataannya merupakan kejahatan tersendiri. Sementara mendoakan mereka, mengharapkan mereka untuk membela umat Islam, mengusir musuh-musuh Islam dan menegakkan syari’at di muka bumi merupakan sikap yang baik.

Namun demikian – terlepas bahwa Thaliban dan Al-Qaeda memiliki ciri-ciri yang banyak keserupaannya dengan kelompok Ashabu Rayati Suud – yang jelas memastikan secara haqqul yakin bahwa mereka adalah Ashabu Rayati Suud termasuk sikap tergesa-gesa. Namun, mudah-mudahan tidak salah jika kita berharap, semoga mereka itulah kelompok yang dimaksudkan. Amiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

[1]. HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3544 dan Tirmidzi: Kitabul fitan no. 2155

[2]. HR. Muslim: Kitabul imarah no. 3550.

[3]. HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.

[4] Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467: Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain.” (An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini).

[5] Pada situs Saudipolitics.com, 1 Januari 2004, Tony Khater, THE UNITED STATES AS UNWANTED BROKER IN ROYAL SECESSION; IT WANTS BANDAR BIN SULTAN AS CROWN PRINCE”


SUMBER: http://granadamediatama.wordpress.com/arsip/ashabu-rayati-sud-pasukan-panji-hitam/
Retweet this button on every post blogger

Minggu, Agustus 21, 2011

Keutamaan Membaca al-Qur’an

16:25


Keutamaan Membaca al-Qur’an

Oleh Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA





Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang paling utama dan dicintai Allah. Dalam hal ini para ulama sepakat, bahwa hukum membaca Al-Qur’an adalah wajib ‘ain. Maknanya, setiap individu yang mengaku dirinya muslim harus mampu baca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Kalau tidak, maka ia berdosa.

Karena bagaimana mungkin kita mengamalkan al-Qur’an tanpa mau membaca dan memahaminya.Beriman terhadap Al-Qur’an bukan sekedar percaya saja, namun mesti dibuktikan dengan implementasi yang nyata sebagai tuntutan dari iman tersebut yaitu membaca, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an merupakan pedoman, konsep, dan aturan hidup manusia. Dalam konteks hablum minallah, Al-Qur’an mengatur relasi hamba dengan khaliqnya. Hubungan vertikal ini dalam bahasa syariat disebut ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan dalam konteks hablum minan naas, Al-Qur’an menjelaskan tata cara pergaulan dan hubungan manusia dengan dirinya, manusia lain dan makhluk Allah lainnya. Hubungan horizontal ini dikenal dengan sebutan muamalah. Konkritnya, Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Mengamalkan al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap muslim, bahkan menjadi syarat utama menjadi seorang yang beriman. Allah swt dan Rasul-Nya saw telah memerintahkan kita untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah, agar kita selamat dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah saw mengingatkan kita akan penting pengamalan terhadap al-Qur’an dan sunnah Rasul saw dengan sabdanya, “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw.” (H.R. At-Tirmizi) Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sesat itu orang meninggalkan ajaran al-Qur’an dan As-Sunnah.

Namun sayangnya, selama ini kebanyakan umat Islam telah meninggalkan al-Qur’an. Al-Qur’an tidak mendapat perhatian dan tidak dibaca untuk diamalkan sebagaimana mereka sibuk membaca bacaan lain selainnya. Selama ini kita mampu membaca surat kabar, majalah dan buku setiap hari, namun kita tidak mampu membaca al-Qur’an.

Kita mampu membaca dan mengkhatamkan surat kabar yang jumlah kata atau hurufnya hampir sama dengan 1 juz al-Qur’an dalam waktu belasan menit, namun kita tidak mampu membaca beberapa halaman dari al-Qur’an. Begitu pula kita mampu membaca majalah yang tebalnya seperempat atau sepertiga al-Qur’an dalam waktu beberapa jam, namun giliranya membaca al-Qur’an kita tidak mampu membaca beberapa juz dalam waktu yang sama. Bahkan kita mampu membaca dan mengkhatamkan buku novel, komik dan roman yang tebalnya sama dengan al-Qur’an dalam waktu seminggu, namun kita tidak mampu mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu yang sama, bahkan sebulan sekalipun. Inilah kondisi iman kita saat ini yang sangat lemah dan kritis.

Sejatinya kita bercermin kepada kehidupan orang-orang yang shalih. Mereka menjadikan al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya. Mereka tidak pernah bosan dan kenyang dengan al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, “Kalau hati kita bersih, maka kita tidak pernah kenyang dengan al-Qur’an.” Karena dengan senantiasa membaca al-Qur’an, kita akan mendapatkan banyak kebaikan.

Asy syahid Sayyid Quthub mengatakan dalam muqaddimah tafsirnya, “Hidup dalam naungan al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.”
Sungguh banyak keutamaan dan keuntungan yang diperoleh bagi orang yang membaca al-Qur’an. Keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya seperti surat kabar, majalah dan buku. Diantara keutamaan dan keuntungan orang yang membaca al-Qur’an yaitu;

Pertama: orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat nantinya berdasarkan sabda Rasulullah saw bersabda: ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (H. R. Muslim). Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Namun demikian, tanpa membaca al-Qur’an maka tidak mungkin kita mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.

Kedua, Rasulullah saw menegaskan bahwa orang yang terbaik di antara manusia adalah orang yang mau mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, sesuai dengan sabdanya, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari). Oleh karena itu, orang yang terbaik di dunia ini bukanlah orang yang punya memiliki harta yang melimpah, jabatan maupun pangkat yang tinggi. Namun, disisi Allah Swt orang terbaik itu adalah orang yang mau belajar al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain.

Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan disediakan tempat yang paling istimewa di surga bersama para malaikat yang suci. Sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai), maka ia akan diberi dua pahala yaitu pahala mau belajar dan kesungguhan membaca, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).

Keempat, kejayaan suatu umat Islam itu dengan membaca al-Qur’an dan mengamalkannya. Namun sebaliknya, musibah yang menimpa umat ini disebabkan karena sikap acuh tak acuh kepada al-Qur’an dan meninggalkannya. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah Swt meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an” (H.R Muslim). Inilah rahasia mengapa generasi awal umat Islam (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’itabi’in) menjadi generasi terbaik umat ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasul saw. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah karena mereka mengamalkan al-Qur’an dan sunnah Rasul saw. Maka Islampun berjaya pada masa-masa mereka, sehingga tersebar keseluruh penjuru dunia. Namun, setelah generasi tersebut sampai saat ini umat Islam meninggalkan al-Qur’an sehingga umat Islam menjadi lemah dan hina karena dijajah oleh orang kafir, bahkan dizalimi dan dibunuh seenaknya oleh orang kafir akibat meninggalkan al-Qur’an.

Kelima, orang yang membaca dan mendengar Al-Qur’an akan mendapatkan sakinah, rahmah, doa malaikat dan pujian dari Allah. Nabi saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

Memang, membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an menentramkan hati kita sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt, ““...Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang”. (Q.S Ar-Ra’d: 28). Al-Qur’an merupakan zikir yang paling afdhal (utama). Oleh karena itu, ketenangan tidaklah diperoleh dengan harta yang banyak, pangkat dan jabatan, namun diperoleh dengan sejauh mana interaksi kita dengan al-Qur’an.

Keenam, mendapat pahala yang berlipat ganda. Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf (H.R at-Tirmizi) Membaca “alif lam mim” saja kita mendapatkan pahala sebanyak 30 kebaikan, maka bagaimana dengan membaca sejumah ayat-ayat yang dalam satu halaman al-Qur’an? Bahkan berapa jumlah pahala yang kita peroleh bila kita mampu membaca 1 juz dengan jumlah huruf ribuan atau ratusan ribu? Tentu pahalanya sangat banyak, bahkan kita tidak sanggup menghitungnya.

Demikianlah berbagai keutamaan dan keuntungan bagi orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an pada bulan-bulan biasa. Maka, terlebih lagi pada bulan Ramadhan sebagai bulan al-Qur’an?! Tentu, pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Maka, sangatlah rugi bagi orang-orang yang tidak mau membaca dan mempelajari al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan yang dilipat gandakan pahala padanya. Dan keutamaan-keutamaan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya selain al-Qur’an.

Akhirnya, marilah kita manfaatkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah, khususnya membaca al-Qur’an. Karena bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur’an, maka sudah sepatutnya kita lebih mengutamakan dan menyibutkan diri dengan berinteraksi dengan Al-Qur’an pada bulan yang mulia ini, baik dengan membaca, mempelajari, memahami, mentadabburi, menghafal maupun mengamalkannya. Semoga kita bisa memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik mungkin dan meraih berbagai keutamaan yang disediakan di bulan ini, termasuk berbagai keutamaan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Semoga..!!


SUMBER: ERAMUSLIM.COM
_____________________________________________________________________________________
Penulis adalah Pengurus Dewan Dakwah Aceh & pengurus Komite Penguatan Aqidah & Peningkatan Amalan Islam (KPA-PAI) kota Banda Aceh.
Retweet this button on every post blogger

Malam Lailatul Qadar: Tanda - Tanda Menurut Hadist



Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, dimana Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar disebutkan bahwa malam ini memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan, Pada malam ini pulalah juga diturunkannya Al Qur'an, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6.

Maka dari itu sangatlah bersyukur dan bahagianya anda jika bisa berjumpa dengan malam yang disebut juga sebagai malam seribu bulan tersebut.

Berikut tanda-tanda malam lailatul qadar menurut hadist :

1. Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)


2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)


3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum


4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)


5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)

Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)


6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.


SUMBER: SIWEH.BLOGSPOT.COM
Retweet this button on every post blogger

Minggu, Juli 31, 2011

Marhaban Yaa Ramadhan

06:44


Marhaban Yaa Ramadhan

Esok hari, Ramadhan akan datang ditengah-tengah kita. Seyogyanyalah kita gembira menyambut bulan yang penuh, berkah, rahmah dan maghfirahnya ini. Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang gembira menghadapi bulan Ramadhan, niscaya akan diharamkan oleh Allah baginya neraka". Didalam menyambut Ramadhan ini Rasullullah biasanya meningkatkan intensitas dan kualitas ibadahnya untuk melatih diri menghadapi bulannya Allah ini (Syahr Allah). Pada bulan ini disamping diwajibkan shaum (puasa) yang mana pahalanya diberikan langsung oleh Allah (HR Bukhari dari Abu Hurairah), ibadah lainnya pun akan dilipat gandakan pahalanya. Untuk itu marilah kita bergembira menyambut bulan suci ini dengan meningkatkan ibadah kita dan tambah meningkat lagi selama Ramadhan dengan menegakkan ibadah-ibadah khusus seperti menegakkan malam Ramadhan (Qiyamullail) dsb.

Keutamaan Puasa Ramadhan

Telah bersabda Rasulullah saw bersabda: " Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman, ikhlas dan mengharapkan ridhoNya, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu diampuni oleh Allah swt". (HR. Ahmad dan As-Sunan).

Note: Hadits shahih diatas sudah tidak asing lagi ditelinga kaum muslimin dimana selalu dikutip ketika ramadhan sudah menjelang. Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulannya Allah, bulan suci Ramadhan. Pada bulan ini Allah melipat gandakan pahala bagi melaksanakan ibadah, khususnya ibadah puasa yang pahalanya akan diberikan langsung oleh Allah swt. Marilah kita sambut dengan senang dan gembira bulan yang penuh rahmah, berkah dan maghfirahNya ini serta pada waktunya nanti kita tegakkan puasa (shaum) disiang hari dan menegakkan malamnya dengan shalat tarawih dan tahajjud serta ibadah-ibadah lainnya. Setelah itu , semoga Allah swt menerima segala amal perbuatan kita dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu dan Insya Allah juga yang akan datang.

MARHABAN YA RAMADHAN....

Retweet this button on every post blogger

 
  • Blog Archive

  • Komentar Terbaru

  • Pengikut

  • Visitors

    free counters