Perkembangan Islam di Indonesia

Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya.

Sejarah Islam Abad Pertengahan

Sejarah perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: priode klasik (650 -1250 M), priode pertengahan (1250 – 1800 M) dan priode modern (1800 – sekarang).Yang dimaksud abad pertengahan ialah tahapan sejarah umat Islam yang diawali sejak tahun-tahun terakhir keruntuhan.

Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman yang utama selain iman kepada Allah swt. Menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, dalam bukunya Wawasan Al-Quran halaman 80, dua rukun iman inilah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Quran. Terbukti al-Quran selalu menyebutkan Iman kepada Hari Akhir dan Iman kepada Allah selalu bersamaan dan berurutan

Iman Kepada Rasul-Rasul Allah

Iman kepada Rasul Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

  • RSS
  • Twitter

SOAL-SOAL SEJARAH KELAS X DAKWAH NABI DI MEKAH

               SOAL-SOAL   SEJARAH   KELAS  X
DAKWAH  NABI  DI MEKAH

1.       Tanggal berapa  Nabi  Muhammad Saw, pertama kali diangkat menjadi  Rasul ?
2.       Salinlah  Q.S.  Al-Alaq ayat  1  s/d  5  beserta terjemahnya
3.       Apa  makna yang terkandung dalam  ayat  di atas  (nomor 2)
4.       Mengapa   ayat-ayat  Al_quran (Wayhu Allah)  diturunkan kepada Nabi Muhammad  saw  secara  berangsung-angsur, tidak sekaligus ?
5.       Gambarkan  keadaan  aqidah (keyakinan)  masyarakat  arab   sebelum diutusnya Nabi  Muhammad Saw  !
6.       Tokoh-tokoh Kafir Quraisy  pernah mengajukan usulan  kepada  Nabi Muhammad  saw, melalui pamannya  (Abu Thalib)  agar menghentikan da’wahnya  dengan  imbalan   harta, tahta atau wanita. Bagaiaman  jawaban Nabi  akan tawaran tersebut  ?  Jelaskan  !
7.       Jelaskan   dua strategi dakwah Nabi  di   Mekah !
8.       Apa yang dimaksud  dengan Assabiqunal  Awwalaun, dan tulislah   siapa saja mereka itu !
9.       Hijrah  sahabat nabi  pertamakali adalah  ke  Abisina (Habsyi) , sebuah kerajaan yang   dpimpin oleh   seorang raja beragama Nasroni .  Sahabat nabi diterima dengan baik oleh raja  
Retweet this button on every post blogger

Surat Al-Kafirun dan toleransi beragama

Surat  Al-Kafirun   dan  toleransi  beragama
Oleh: Saefudin
            Ketika  Islam  mulai  berkembang  di kota Mekah,  diikuti bukan hanya  oleh golongan  rendah  (hamba sahaya) tetapi juga oleh golongan tinggi (bangsawan),  menimbulkan  kekhawatiran  bagi sebagian  tokoh  kafir Quraisy   seperti   al-Walid  Ibnu  al-Mugirah, Aswad Ibnu  ‘Abdul Muthalib dan Umayyah  Ibnu  Khalaf    (Tafsir Al-Misbah oleh Quraisy Sihab).  
            Menurut  prasangka  mereka  gerak langkah Muhammad Saw,  dengan Islamnya  akan  mengganggu  stabiltas  sosial dan kedudukan mereka   di mata masyarakat. Bagaimana tidak, seorang  budak di saat itu dianggapnya  sebagai manusia kelas rendah  yang bisa disamakan dengan  barang  komoditas yang bisa diperjualbelikan, kemudian  Islam mengangkatnya   menjadi  manusia  yang berkedudukan  sama dengan mereka.
            Kehadiran  Islam juga  dikhawatirkan  akan merontokkan  dominasi penyembahan  terhadap  berhala-berhala yang selama ini  sudah  menjadi pengikat kehidupan meraka.Karena  itu  mereka , para tokoh kafir Quraisy  berusaha untuk menghentikan da’wah nabi Muhammad saw, dengan cara menawarkan  imbalan  harta, wanita  dan kedudukan (jabatan) kepada nabi .  Melalui pamannya,  Abu   Thalib,  mereka meminta agar   Abu Thalib mampu menghentikan  keponakannya itu  agar tidak menyebarkan  “ agama  baru”  kepada masyarakat.
            Namun apa jawaban nabi ?
            Nabi bersumpah; “Demi Allah, meskipun  mata hari  di tangan kananku, bulan di tangan kiriku, aku tidak  akan berhenti   melaksanakan da’wah ini.”
            Jawaban  Nabi   tersebut  tentu  mengecewakan para tokoh kafir Quraisiy. Tetapi mereka  tetap berusaha  kembali   membujuk  nabi Muhammad  saw.  Apa sekarang  yang ditawarkan mereka kepada  Nabi ?
            “Sesekali   kami mau mengikuti agamamu Muhammad, menyembah tuhan yang kamu  sembah. Tetapi di  lain waktu , kamu bersama pengikutmu  harus  mengikuti agama kami dan menyembah tuhan-tuhan kami.  Jika  agamamu yang benar,  setidaknya kami  dapat keuntungan. Demikian juga jika agama kami yang benar, kamu  tentu  juga akan mendapat keuntungan.” Demikan  tawaran kafir Qauraisy kepada Nabi Muhammad saw.
            Sepintas memang tawaran  kafir  Quraisy  untuk kerjasama dan kolaborasi dalam  beragama  cukup menggiurkan  dari  sisi  toleransi. Tetapi  hal itu langsung dijawab oleh Allah dengan  diturunkannya  Q.S. Al-kafirun  yang  artinya  sebagai berikut:
            “Katakan  (hai Muhammad):   Wahai  orang-orang  kafir, aku tidak akan  menyembah   tuhan yang kamu sembah, demikan pula  kamu tidak akan  menyembah  tuhan yang kami sembah” (Ayat  1 dan 2)
            Dari jawaban Allah tersebut jelas tidak ada kolaborasi dan kerjasama dalam  penyembahan (aqidah dan ibadah). Toleransi yang  harus kita tunjukkan dalam  aqidah dan ibadah  hanya sebatas  menghargai   dan membiarkan  atau tidak mengganggu  umat lain dalam memelihara aqidah dan melaksanakan ibadanya. Hal  ini dijelaskan dalam   ayat terakhir  (ayat 6  surat Al-kafirun),  “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
             Bagaimana  dengan  ucapan selamat natal atau menggunakan atribut agama lain bagi seorang  muslim ?
            Untuk menjawab pertanyaan ini  perlu terlebih dahulu  dipahami bahwa  ajaran Islam  secara  garis besarnya terdiri dari tiga  dimensi, yaitu  dimensi   aqidah,  dimensi  ibadah dan dimensi  muamalah (sosial  kemanusiaan). Seperti dijelaskan di atas, koloborasi  dan kerjasama  dalam  dimensi   aqidah dan ibadah  hukumnya haram.  Contoh  misalnya seorang  muslim ikut atau ikut-ikutan  melaksanakan ritual/ ibadah agama  lain.
            Sedangkan mengucapkan selamat natal atau mengenakan atribut  agama lain,  para ulama berbeda pendapat. Perbedaan  ini  tergantung dari  sikap kehati-hatian mereka dan  dari  sisi   mana  mereka memamandangnya. 
            Kelompok yang mengharamkan  memandang bahwa  mengucapkan selamat  natal dan menggunakan atribut agama lain termasuk ranah aqidah.  Karena  hal ini sama  dengan membenarkan  atau  menyetujui  apa yang diyakini oleh  umat lain. Mereka khawatir  seandainya  ini dibolehkan  akan membahayakan aqidah  umat Islam Indonesia yang  sebagian besar   masih awam. Ibarat  orang tua  yang membolehkan anaknya  berdiri di pinggir pantai,  lama kelamaan  ia akan  mencoba  untuk turun  ke laut.
            Sedangkan  kelompok  yang membolehkan  memandangnya  dari   dimensi  muamalah. Artinya  mengucapkan  selamat natal dan mengenakan  atribut agama lain dipandangnya  hanya sebatas  hubungan sosial   kemanusian, tidak  dijadikan sebagai keyakinan atau pembenaran terhadap  keyakina  umat  lain. Meminjam istilah  Prof. Dr. Quraisy Shihab, hal  ini  hanyalah  sekedar “ basa-basi,”  (http://www.tribunnews.com/  minggu, 21 Desember 2014) tidak dimasukkan ke dalam hati. Dengan kata lain, berarti tergantung kepada niatnya.
            Disinilah pentingnya  saling menghargai pendapat dan  keyakinan  orang  lain.  Toleransi  interen  umat Islam sendiri, antara  kelompok yang  mengharamkan  dan yang membolehkan  mengucpkan selamat natal  atau  mengenakan  atribut  agama lain.  Demikian pula umat agama lain (khususnya  kristiani)  dapat kiranya  memaklumi dan menghargai  terhadap kelompok  Islam yang  mempunyai keyakinan akan  haramnya menyampaikan ucapan selamat natal  atau mengenakan  atribut  agamanya. Tidak mengklaim  bahwa kelompok  itu  tidak toleran atau  menuduhnya  sebagai  aliran  radikal  yang harus  dijauhi dan ditakuti.
Wallahu A’lamu

                                    Identitas   Penulis:
Nma                            : Saefudin
Tempat/Tgl. Lahir    : Bogor, 7 Juli  1962
Nomor  KTP              : 3674040707620004
Pekerjaan                  : Guru  Agama  Islam  SMAN  108  Jakarta
Alamat                        :  Kp.  Maruga   Rt. 006/004  Serua  Ciputat  Tangsel  Banten
Nomor  HP                : 081291159705    /   085779376731
e-mail                         : saef_jaza@yahoo.com

Alamat  Tempat Tugas: SMAN  108  Jakarta  Jl. Kesadaran  Ulujami  Raya  Pesanggrahan  Jakarta  Selatan  Telp. 7376876,   Fax  (021)  7377764 
Retweet this button on every post blogger

Peringatan Isra Mi’ra Nabi Saw, dan pembentukan insan “ULIL ALBAB”

Peringatan Isra Mi’ra  Nabi Saw.
Dan pembentukan  insan  “ULIL  ALBAB”
Oleh : Drs. Saefudin *

Dalam hadits  yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih melalui ‘Atha bahwa  beliau bersama  beberapa rekannya  mendatangi istri  Rasulillah saw, Sayidah Aisyah ra, untuk menanyakan hal-hal yang sangat mengesankan dari kehidupan Rasulullah saw.
“Wahai  Aisyah, tolong ceritakan kepada kami  hal-hal yang sangat mengesankan dari kehidupan  Rasulillah saw, “  pinta  mereka.
Siti Aisyah menangis sambil berkata: “Semua yang beliau lakukan adalah mengesan dan indah. Kalaulah aku harus menyebutkan satu saja, bolehlah. Pada suatu malam giliranku, beliau tidur bersamaku,kaki beliau menyentuh kulitku. Lalu beliau bersabda: “wahai Aisah, izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”
Aku berkata:” Demi  Allah,aku senang berada di sampingmu, tetapi aku senang juga engkau beribadah kepada Tuhanmu.”
Maka beliau pergi untuk berwudu.Tidak banyak air yang  beliau gunakan, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangis hingga membasahi jenggot beliau, lalu sujud dan menangis hingga membasahi lantai (tempat sujudnya), lalu berbaring dan menangis. Setelah itu  terdengah suara  Blal mengumandngkan azan subuh”.
Aisyah lebih lanjut bertutur, “Bilal bertanya kepada Rasulullah saw, apa yang menjadikan beliau menangis  sedang  Allah telah mengampuni beliau yang lalu dan yang akan datang ?
Rasulullah menjawab :” “Aduhai Bilal, apa yang dapat membendung tangisku padahal semalam Allah menurunkan kepadaku  ayat...”  ( Q.S. Ali Imran ayat 190 dan 91) yang artinya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”
Rasulullah menambahkan  sabdanya “”Sungguh celaka siapa yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya .”
Dua ayat di atas menyuruh untuk berzikir dan berpikir. Berzikir, yaitu selalu mengingat Allah dalam berbagai keadaan, Menghadirkan Allah  dalam setiap gerak aktifitas kita, dan  bepikir  adalah memikirkan dan merenungkan tentang kekuasaan Allah di alam semesta ini agar tumbuh rasa kagum dan ta’zim kepada Allah.
Kata “Assamawat, “ dalam ayat di atas  biasa diartika dengan langit. Makna yang sesungguhnya adalah  semesta angkasa atau  alam semesta . “Assamawat “adalah kosmos, yaitu ruang yang tak terhingga yang didalamnya terdapat bintang-bintang, planet-palnet dan benda-benda angkasa lainnya yang jumlahnya tak terhingga.
Kenapa dikatakan tak terhingga ?
Karena tidak ada yang bisa menghitung volume atau luasnya alam semesta ini. Belum ada orang yang bisa menghitung jumlahnya  bintang yang ada di semesta angkasa.
Bagaimana  bentuk Assamawat (alam semesta) ?  apakah seperti bola, apakah seperti telur atau seperti  tabung silinder atau seperti apa ?
Belum ada yang bisa mengetahui, kecuali  Allah.
Kemudian  bagaimana keadaan bintang-bintang, planet-planet dan benda angkasa lainnya ?  Berapa banyaknya dan berapa besarnya masing-masing ?
Bumi misalnya, adalah planet yang kita tempati  mempuyai  garis tengah 12756 KM; Luas permukaannya 510 juta km 2. Betapa besar bumi  ini. Tetapi bumi yang kita anggap besar itu adalah kecil dibandingkan dengan matahari. Matahari memilki diameter 110  kali lipat bumi;  Volumenya  1  juta kali volume bumi.  
Kalau kita keluar  malam hari, lalu melihat bintang di langit, kecil sekali bintang itu. Ternyata bintang yang kita lihat itu bisa jadi lebih besar dari matahari. Ada bintang yang besarnya  1500 kali matahari.
Berapa jumlah  bintang yang ada di langit ?
Hubble  dengan teleskopnya pernah mengadakan penelitian luar angkasa. Dia mengarahkan teleskopnya itu ke suatu titik sudut di semesta angkasa (langit). Apa yang dia lihat ?
Ada jutaan  galaksi yang bisa dilihat. Itu baru satu titik sudut saja . Bagaimana titik-titik sudut lainnya ?
Apa galaksi itu ?
Galaksi adalah gugusan bintang-bintang yang jumlahnya diperkirakan 100 milyar.
Ada lagi yang dikelanal dengan istilah super cluster. Super cluster adalah gugusan galaksi yang  jumlahnya sekitar 100 milyar.  Lalu ada berapa  super cluster yang terdapat di angkasa raya ini ?
Tidak ada yang tahu, kecuali  Allah.
Timbul pertanyaan  mengapa Rasulullah menangis ketika turun dua ayat di atas ?
Karena beliau terbayang  akan peristiwa Isra  dan mi’raj yang telah beliau alami.  Allah telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada beliau saw, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Isra  ayat 1 yang artinya:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Malaikan jibril membawa  beliau saw  berjalan mengelilingi  semesta angkasa. Beliau meilhat bagaimana kehebatan dan kebesaran  alam jagad  serta isinya ini. Beliau terkagum dan ta’zhim kepada Allah swt,
Maka untuk mencapai derajat “Ulil Albab,” sering-seringlah  kita keluar rumah tengah malam di hari cerah ada bintang gemerlap di langit. Kemudian  sambil berzikir menyebut keagunga Allah, kita menengadahkan pandangan kita  ke langit , lalu memikirkan bagaiman Allah telah menciptakan alam jagad raya beserta isinya ini. Insya Allah akan tumbuhlah dalam hati kita rasa kagum kepada Allah. Allah akan menuntun kita untuk menemukan cahayaNya merasuk ke dalam hati kita.   Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(Q.S.Fushilat/41: 53)


Identitas penulis:
Nama                         : Saefudin
Tempat/tgl.Lahir       : Bogor, 7 Juli 1962
Alamat                        : Kampung maruga Rt.06/04  Serua Ciputat Tangerang Selatan
Pekerjaan                  : Guru Agama Islam  SMAN 108  Jakarta
Nomor KTP               : 3674040707620004
Telp/ HP                    : (021) 74632942  /   081291159705  / 085779376731


Retweet this button on every post blogger

MAWARIS / PEMBAGIAN HARTA PUSAKA DALAM ISLAM

M A W A R I S


Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
11. Memahami hukum Islam tentang waris.
11.1.   Menjelaskan-ketentuan ketentuan hukum waris.

    Mampu menjelaskan hukum waris
    Mampu menjelaskan tentang ahli waris.
    Mampu menjelaskan pembagian masing-masing ahli waris.

11.2.   menjelaskan contoh pelaksanaan hukum waris.
    Menyebutkan contoh pelaksanaan hukum waris yang terdapat dalam undang-undang waris.
    Memperagakan cara-cara menghitung pembagian warisan secara Islam.

 

A.      Dalil Naqli tentang Penentuan Warisan

    
Ketentuan ahli waris dan bagian-bagiannya telah dijelaskan secara rinci oleh Allah swt dalam Q.S.an-Nisa ayat 7, 11 dan 12, sehingga manusia tinggal mentaati dan melaksanakan ketentuan tersebut  Dalam terjemah  Q.S. an-Nisa:11 dan 12  Allah menyatakan sebagai berikut:

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Q.S. an-Nisa’:11)
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Q.S. an-Nisa’: 12)

Dari dua  diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ahli waris ada dua golongan yaitu ahli waris yang telah ditentukan bagiannya secara pasti (zawul furudh) dan ahli waris yang tidak disebutkan secara jelas bagiannya (ashabah).

B.       Jumlah Ahli Waris

Ahli waris menurut hukum faraid ada 25 golongan. Dan untuk memudahkan pemahaman kita, coba perhatikan skema berikut !     



                                             
                                                                                                   
 Keterangan :
v 10 golongan ahli waris dari pihak perempuan adalah no 1-9 dengan  symbol ♀ sedangkan yang kesepuluh adalah yang memerdekakan budak.
1♀  =  anak perempuan
2♀ =  cucu perempuan dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah dari garis keturunan laki-laki
3♀  =  ibu
4♀  =  nenek dan seterusnya dari keturunan perempuan
5♀  =  nenek dari pihak ayah dan seterusnya berturut-turut dari pihak ayah
6♀  =  saudara perempuan seibu-seayah
7♀  =  saudara perempuan seayah
8♀  =  saudara perempuan seibu
9♀  =  istri
10♀=  orang yang memerdekakannya
v 15 golongan ahli waris dari pihak laki-laki adalah no.1–14 dengan symbol ♂,  sedangkan yang ke 15 adalah yang memerdekan budak.
1 ♂   = anak laki-laki
2 ♂   = cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah
3 ♂   = ayah
4 ♂   = kakek dan seterusnya keatas
5 ♂   = saudara laki-laki seibu seayah
6 ♂   = saudara laki-laki seayah
7 ♂   = saudara laki-laki seibu
8 ♂    = keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah dan seterusnya kebawah
9 ♂   = keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah dan seterusnya kebawah
10 ♂ = saudara laki-laki ayah (paman) yang seibu seayah dengan ayah
11 ♂ = saudara laki-laki ayah(paman) yang seayah dengan ayah
12 ♂ = anak laki-laki paman (saudara sepupu) yang seibu seayah
13 ♂ = anak laki-laki paman (saudara sepupu) yang seayah
14 ♂ = suami
15 ♂ = yang memerdekakan budak
v Dari 25 golongan ahli waris itu jika semuanya ada, maka cara penentuan ahli warisnya adalah dengan ketentuan sebagai berikut :
1.         Mencari siapa diantara ahli waris yang paling dekat hubungan nasabnya dengan almarhum/almarhumah
2.         Mencari yang ada hubungan perkawinannya
3.         Mencari ahli waris yang memiliki persamaan agama

Berdasarkan ketentuan tersebut maka dari 25 golongan itu, yang paling berhak menjadi ahli waris hanyalah 5 golongan yaitu : 1). Anak laki-laki, 2). Anak perempuan, 3). Ayah, 4). Ibu, dan 5). Suami atau istri

C.      Tiga Golongan Ahli Waris

1.         Ahli waris zawul furudh
Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan bagiannya oleh al-Quran dan Hadis (syara’).   Untuk memudahkan pemahaman kita,  perhatikan tabel berikut !

Perolehan

Ahli waris

a. ½ (setengah)
1.         Anak perempuan tunggal
2.         Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki apabila tidak ada anak  perempuan (no.1)
3.         Saudara perempuan tunggal seibu sebapak, jika yang meninggal tidak meninggalkan anak, baik laki-laki maupun perempuan, tidak meninggalkan cucu dari anak laki-laki baik laki-laki maupun perempuan dan tidak meninggalkan bapak atau kakek.
4.         Saudara perempuan sebapak, jika tidak ada anak, cucu dan saudara perempuan seibu sebapak.
5.         Suami, apabila istrinya tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki
b. ¼ (seperempat)
1.      Suami, jika istrinya  meninggalkan anak atau cucu.
2.      Istri , baik hanya satu orang atau berbilang,
jika yang meninggal (suami ) meninggalkan anak atau cucu.
c. 2/3 (dua pertiga)
1.      Dua anak perempuan atau lebih, jika yang meninggal  tidak mempunyai anak  laki-laki
2.      Dua cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki , jika yang meninggal tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki.
3.      Dua saudara perempuan atau lebih (seibu sebapak), jika yang meninggal tidak mempunyai anak, bapak, kakek, cucu, atau saudara laki-laki seibu sebapak
4.      Dua saudara perempuan atau lebih yang sebapak, jika saudara perempuan seibu sebapak tidak ada (1,2 dan 3).
d. 1/3 (sepertiga)
1.      Ibu, jika yang meninggal tidak meninggalkan anak, cucu atau saudara lebih dari seorang.
2.      Saudara seibu, jika mereka lebih dari seorang sedangkan ia tidak meninggalkan anak, cucu, bapak atau kakek.
e. 1/6 (seperenam)
1.      Bapak, jika yang meninggal, meninggalkan anak atau cucu dari anak laki-laki
2.      Ibu, jika anaknya  yang meninggal itu  mempunyai  anak atau cucu atau saudara  lebih dari satu orang
3.      Kakek (Bapak dari bapak) jika yang meninggal tidak mempunyai bapak tetapi ada anak atau cucu.
4.      Nenek, jika yang meninggal tidak meninggalkan ibu.
5.      Cucu perempuan (dari anak laki-laki) seorang atau lebih, jika bersama-sama seorang anak perempuan. Tetapi apabila anak peremuan berbilang, maka cucu perempuan tadi tidak mendapat pusaka.
6.      Seorang saudara seibu baik laki-laki maupun perempuan.
7.      Saudara perempuan sebapak baik sendiri ataupun berbilang, apabila beserta seorang saudara perempuan sekandung. Adapun apabila saudara perempuan sekandung itu lebih dari satu orang, maka saudara perempuan yang sebapak tersebut tidak mendapat warisan.
f. 1/8 (seperdelapan)
1. Istri, baik sendiri atau lebih  jika suami meninggalkan anak
    atau cucu

2.         Ahli Waris Ashabah
        Ahli waris Ashabah adalah ahli waris yang tidak ditentukan bagian warisannya dalam Al-Quran, dan menghabiskan sisa harta warisan setelah bagian zawul furudh terpenuhi hak-haknya. Adapun Ashabah terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

a.         Ashabah Binafsihi
        Ashabah binafsihi ialah ahli waris dengan sendirinya menjadi ashabah dan berhak menerima semua harta warisan atau semua sisa harta warisan. Yang termasuk golongan ini adalah :
1)         Anak laki-laki
2)         Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah jika tidak ada anak laki-laki
3)         Bapak jika tidak ada nomor 1 dan 2
4)         Kakek dari pihak bapak dan seterusnya ke atas jika tidak ada bapak, anak laki-laki dan cucu laki-laki
5)         Saudara laki-laki sekandung jika tidak ada no. 1-2-3 atau 4
6)         Saudara laki-laki sebapak jika tidak ada no. 1-2-3-4 dan 5
7)         Anak saudara laki-laki sekandung jika tidak ada no. 1 sampai dengan 6
8)         Anak saudara laki-laki sebapak jika tidak ada No. 1sampai dengan 7
9)         Paman jika tidak ada No. 1 sampai 8
10)     Anak paman sebapak dengan bapak jika tidak ada No. 1 sampai dengan 9
11)     Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak jika tidak ada No.1 sampai dengan 10
12)     Anak laki-laki paman sebapak dengan bapak jika tidak ada No. 1 sampai dengan 11
Jika dua belas ahli waris di atas ada semua, maka yang menjadi ashabah adalah yang paling dekat pertaliannya dengan yang meninggal.
b.         Ashabah bil ghair
        Ashabah bil ghair ialah ahli waris yang menjadi ashabah disebabkan  tertarik oleh ashabah binafsihi, seperti :
1)         Anak perempuan jika bersama anak laki-laki (saudaranya)
2)         Cucu perempuan jika ada cucu laki-laki dan tidak ada No. 1
3)         Saudara perempuan sekandung jika adanya saudara laki-laki  sekandung dan   tidak ada no. 1 dan 2
c.          Ashabah ma’al ghair
        Ashabah ma’al ghair yaitu ahli waris yang menjadi ashabah jika bersama-sama dengan anggota ashabah bil ghair dan tidak ada anggota ashabah bi nafsihi, yaitu :
1)         Saudara perempuan sekandung seorang atau lebih, bersama-sama dengan anak  perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki seorang atau lebih.
2)         Saudara perempuan sebapak seorang atau lebih bersama-sama dengan anak perempuan/cucu perempuan seorang atau lebih.
Cara membagikan waris anak laki-laki mendapat dua bagian dari anak perempuan. Sesuai dengan firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nisa: 11 yang artinya:
Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.( Q.S. an-Nisa: 11)

3.         Dzawil  Arham
Dzawil  arham yaitu setiap kerabat yang bukan zawul furudh dan bukan ashabah. Dan menurut Sayid Sabiq dalam kitabnya Fikih Sunnah jilid 14 halaman 272-274 bahwa bagian zawul arham tidak diatur dalam Al-Quran dan Sunnah. Menurutnya ada empat golongan zawul arham, dan urutan golongan itu merupakan urutan prioritas.
Golongan Pertama : Anak laki-laki dari anak-anak perempuan dan seterusnya kebawah, dan anak-anak laki-laki dari anak-anak perempuan dari anak-anak laki-laki dan seterusnya kebawah.
Golongan Kedua : Kakek yang tidak sahih dan seterusnya keatas, dan nenek yang tidak sahih dan seterusnya keatas.
Golongan Ketiga : Anak-anak dari saudara-saudara laki-laki seibu dan anak-anak mereka terus kebawah, anak-anak laki-laki dari saudara-saudara perempuan seibu seayah, atau seibu saja, atau seayah saja dan seterusnya kebawah, anak-anak perempuan dari saudara-saudara laki-laki seayah seibu, atau seayah saja, atau seibu saja dan anak-anak mereka terus kebawah, anak-anak perempuan dari anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah seibu atau seayah saja dan seterusnya kebawah dan anak-anak laki-laki mereka dan seterusnya kebawah
Golongan Keempat : Golongan keempat ini ada enam kelompok, meliputi kelompok-kelompok yang urutannya merupakan urutan prioritas. (Karena keterbatasan tempat tidak ditampilkan dalam buku ini. Dan bisa dibaca dalam Fikih Sunnah Jilid 14 hal. 274).

D.      Ahli Waris yang Hilang Haknya   


Hal- hal yang menyebabkan hilangnya hak ahli waris adalah sebagai berikut :
1.         Perbedaan Agama ( bukan Agama Islam)
Sabda Rasulullah saw :

لاَيَرِثُ الْمُسْلِمُ اَلْكَافِرَ وَلاَ اَلْكَافِرُ الْمُسْلِمَ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمُ)

Artinya :
“Tidak mewarisi orang Islam akan orang kafir dan demikian pula yang bukan Islam tidak pula mewarisi  orang Islam”. (H.R. Bukhari Muslim)

2.         Pembunuh
Orang yang membunuh pewarisnya tidak mendapatkan warisan dari pewaris yang dibunuhnya. Sabda Rasulullah saw :

مَنْ قَتَلَ قَتِيْلاً فَإِنَّهُ لاَيَرِثُهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَارِثٌ غَيْرُهُ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِى وَابْنُ مَاجَه)

Artinya :
“ Yang membunuh tidak mewarisi dari yang dibunuhnya sekalipun tidak terdapat ahli waris selainnya. (H.R. Bukhari dan Ibnu Majah)

3.         Hamba Sahaya
Seorang budak atau hamba sahaya tidak berhak menerima warisan selama ia masih bersifat budak. Firman Allah swt dalam Q.S. an-Nahl : 75 yang artinya sebagai berikut:

Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui. (Q.S. an-Nahl : 75)

E.       Mahjub


Mahjub  artinya terhalang, maksudnya adalah ahli waris yang terhalang menerima warisan karena terhalang oleh ahli waris lainnya. Ada yang terhalang sebagian (hijab nuqshan) dan terhalang keseluruhan (hijab hirman). Hijab nuqshan misalnya ibu, ayah, suami, istri. Perhatikan tabel hijab nuqshan berikut !
No
Ahli waris
Bagian semula
Nuqshan menjadi
Karena mayit punya anak
1
ibu
1/3
1/6
Anak (♂ / ♀)
2
ayah
1/3
1/6
Anak (♂ / ♀)
3
istri
1/4
1/8
Anak (♂ / ♀)
4
suami
1/2
1/4
Anak (♂ / ♀)

Sedangkan hijab hirman diantaranya adalah : sebagaimana daftar berikut !
No
Ahli waris yang mahjub
Hijab hirman oleh
1
Kakek
Ayah
2
Nenek
Ibu
3
Cucu dan  seterusnya kebawah
Anak laki-laki
4
Saudara laki-laki seibu seayah
1.   Ayah
2.   Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki-laki
5
Saudara perempuan seibu seayah
1.   Ayah
2.   Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki-laki
6
Saudara laki-laki seayah
1.   Ayah
2.   Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki-laki
4.   Saudara laki-laki/perempuan seibu-seayah
7
Saudara perempuan seayah
1.    Ayah
2.    Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki- laki
4.   Saudara laki-laki /  perempuan seibu-seayah
8
Saudara laki-laki seibu
1.   Ayah
2.   Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki-laki
4.   Anak perempuan
5.   Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan dari anak laki-laki)
9
Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
1.   Ayah
2.   Anak laki-laki
3.   Cucu laki-laki dari anak laki-laki
4.   Kakek
5.   Saudara laki-laki seibu-seayah
6.   Saudara laki-laki seayah
7.   Saudara perempuan seibu seayah
8.   Saudara perempuan seayah
10
Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
1.   Terhalang oleh 8 golongan pada no.9, ditambah dengan:
2.   Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
11
Paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu seayah dengan ayah
1.   Terhalang oleh 9 golongan pada no.10, ditambah dengan:
2.   Anak laki-laki dari saudara   laki-laki seayah
12
Paman (saudara laki-laki ayah) yang seayah dengan ayah
1.   Terhalang oleh 10 golongan yang tersebut    pada no/11, ditambah dengan :
2.   Paman yang seibu seayah dengan ayah
13
Anak laki-laki dari paman yang tercantum pada no 11 diatas
1.   Terdinding oleh 11 orang tersebut diatas, ditambah dengan :
2.   Paman yang seayah
14
Anak laki-laki dari paman yang tercantum pada no 12 diatas
1.   Terdinding oleh 12 orang tersebut diatas, ditambah dengan :
2.   Anak laki-laki dari paman yang seayah seibu dengan ayah

F.       Pembagian dan Perhitungan Warisan


Sebelum harta warisan dibagi kepada para ahli waris, maka mengikuti langkah-langkah berikut :
1.         Membersihkan harta warisan
Harta peninggalan dari yang meningggal dunia itu sebelum dibagikan kepada ahli warisnya, maka terlebih dahulu harus diselesaikan hal-hal sebagai berikut :

a.          Biaya penyelenggaraan jenazah seperti kain kafan, tempat, upah menggali kubur dan segala yang berkaitan dengan biaya penyelenggaraan jenazah.
b.         Utang yaitu apabila yang meninggal mempunyai hutang, hendaknya dibayar dari harta peninggalannya sebelum dibagikan sebagai warisan.
c.          Zakat yaitu apabila sudah sampai nisab untuk mengeluarkan zakat, maka bayarlah zakatnya, baru dibagikan sebagai harta warisan sesuai ketentuan.
d.         Wasiat yang berkaitan dengan harta warisan, dengan syarat :
-        Wasiat itu tidak ditujukan kepada ahli waris yang sudah pasti bagiannya
-        Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari harta warisan

2.         Menentukan jenis harta warisan
Ada baiknya harta warisan itu dijernihkan dulu statusnya. Mana yang termasuk harta bawaan dan mana yang termasuk harta gono-gini., jika yang meninggal itu telah bersuami atau beristri. Jadi menurut hukum Islam harta warisan (tirkah) adalah gabungan dari harta bawaan dan sebagian harta gono-gini.
3.         Perhitungan warisan
Contoh kasus
a.         Ahli waris lengkap
Almarhum meninggalkan harta warisan (bersih) sebesar Rp. 60.000.000,-  ahli warisnya terdiri dari bapak, ibu, istri, satu orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Tentukan bagiannya masing-masing !
b.         Ahli waris yang ashabahnya hanya anak laki-laki.
Almarhum meninggalkan harta warisan sebesar Rp. 40.000.000,- ahli waris   terdiri dari istri, ibu dan dua orang anak laki-laki, sebelum meninggal Almarhumah mempunyai hutang Rp. 500.000,- zakat belum dibayarkan,- dan biaya penyelenggaraan jenazah Rp. 200.000,- wasiat untuk anak angkatnya Rp. 2.000.000. Hitunglah berapa bagian masing-masing ahli waris.
Cara Penyelesaiannya :
1.         Menentukan terlebih dahulu posisi ahli waris, siapa yang zawul furudh dan siapa yang ashabah.
2.         Menentukan status harta warisan, mana yang harta gono-gini dan mana yang bawaan.
3.         Mendahulukan zawul furudh dari pada ashabah
Kasus  a
Diketahui harta warisan bersih  Rp.60.000.000,-
Ahli waris zawul furudh :
-           Bapak  1/6 x Rp. 60.000.000       =  Rp. 10.000.000
-           Ibu       1/6 x Rp. 60.000.000       =  Rp. 10.000.000
-           Istri      1/8 x Rp. 60.000.000      =  Rp.   7.500.000
Total bagian zawul furudh        =  Rp. 27.500.000
Harta ashabah adalah :  Rp.60.000.000 – Rp.27.500.000 = Rp. 32500000
Ahli waris ashabah :
-           anak ♂    :  2/4 x Rp.32.500.000 =  Rp. 16.250.000
-           2 anak ♀ :  2/4 x Rp.32.500.000 =  Rp. 16.250.000
Total bagian ashabah                =  Rp. 32.500.000

Dengan deimikian harta warisan tersebut terbagi habis
Catatan : Bagian satu anak laki-laki = dua anak perempuan (Q.S.an-Nisa: 11)

Kasus b
Diketahui harta warisannya (kotor)        Rp. 40.000.000
1.         hutangnya                                        Rp.     500.000
2.         biaya pemakaman                            Rp.     200.000
3.         zakatnya 2.5 % x Rp.40.000.000 = Rp.  1.000.000
4.         wasiat untuk anak angkatnya       = Rp.  2.000.000
Total pengeluarannya                 = Rp. 3.700.000  

Jadi harta warisan bersih adalah :  Rp.40.000.000 – Rp.3.700.000  = Rp. 36.300.000.
Zawul furudh adalah
o    istri     1/8  x   Rp.36.300.000          =  Rp. 4.537.500
o    ibu      1/6  x   Rp.36.300.000          =  Rp. 6.050.000
Total bagian zawul furudh            = Rp.10.587.500

Ashabah adalah 2 anak laki-laki (ashabah binafsihi saja) dan langsung menghabiskan sisa harta itu berapapun besarnya. Karena ashabahnya hanya 2 orang maka sisa harta warisan itu mereka memperoleh masing-masing separuh,  1/2 x Rp 2571250 = Rp. – 12856250
Tidak selamanya ahli waris itu lengkap (zawul furudh dan ashabah), tapi sering juga terjadi ahli waris hanya terdiri dari zawul furudh. Jika ahli waris keadaannya demikian maka yang terjadi ada 3 kemungkinan, yaitu : al-Aul, al-Rod, al-gharawain.

a.          Al-Aul
Yaitu, bagian masing-masing ahli waris itu melebihi jumlah harta warisan. Artinya harta tersebut kurang. Perhatikan contoh kasus berikut !
Almarhumah meninggalkan harta warisan bersih 600 gr perhiasan emas. Ahli warisnya, 2 anak perempuan, suami dan ibu.Tentukan bagiannya masing-masing!
Penyelesaiannya :
2 anak ♀    :   2/3  x  600 gr   =  400  gr  →
Suami        :   1/4  x  600 gr   =  150  gr  →
Ibu             :   1/6  x  600 gr   =  100  gr  →
Total                                    =   650 gr

(Jadi harta tersebut kurang 50 gr). Untuk mencukupi pembagian tersebut mereka akan dikurangi bagiannya secara proporsional. Para ahli faraid menyelesaikan dengan menggunakan rumus dengan menetapkan angka yang dapat dibagi kedalam semua penyebut dari bagian ahli waris. Untuk kasus ini ditetapkanlah angka 12.


2 anak ♀    :  2/3  x 12 = 8  →  8/13  x  600  gr =  369,231 gr 
Suami        :  1/4  x 12 = 3  →  3/13  x  600  gr =  138,461 gr
Ibu             :  1/6  x 12 = 2  →  2/13  x  600  gr =    92,308 gr 
                                     13                                      600        gr

Catatan : angka 12 kita ubah menjadi 13
Dengan demikian mereka mengalami pengurangan secara proporsional dan harta tersebut terbagi habis sesuai dengan ketentuan faraid.

b.         Al-Rad
Yaitu kelebihan harta warisan, setelah masing-masing ahli waris mengambil bagiannya masing-masing. Sedangkan harta tersebut harus terbagi habis. Maka penyelesaiannya sama dengan penyelesaian kasus Al-Aul. Perhatikan kasus berikut !
Almarhum meninggalkan harta warisan berupa property 3000 m2.  Ahli warisnya adalah istri, ibu dan seorang anak perempuan. Tentukan bagian masing-masing.

Penyelesaiannya :
Istri            : 1/8   x  3000  m2     =    375 m2
Ibu             : 1/6   x  3000  m2     =    500 m2
1 anak ♀    : 1/2   x  3000  m2     =  1500 m2
Total                                               2375 m2 

Jadi harta tersebut masih kelebihan 625 m2. Untuk penyelesaiannya polanya sama dengan penyelesaian Al-Aul. Dan para ahli waris akan mendapatkan tambahan secara proporsional. Kita tetapkan KPK nya angka 24.

Istri            :  1/8  x  24  =   3    →   3/19  x  3000 m2      =    473,684 m2
Ibu             :  1/6  x  24  =   4    →   4/19  x  3000 m2      =    631,579 m2
1 anak ♀    :  1/2  x  24  = 12    → 12/19  x  3000 m2      = 1.894,737 m2
                                   19                                               3.000

Catatan : Angka 24 kita ubah menjadi 19   
Dengan demikian harta warisan terbagi habis dan para ahli waris mendapat tambahan secara proporsional.

c.         Al-Gharawain
Artinya aneh karena yang meninggal tidak meninggalkan keturunan dan ahli warisnya hanya terdiri dari ayah, ibu suami atau istri. Perhatikan contoh kasus berikut !
Almarhum meninggalkan harta warisan bersih berupa uang Rp. 9.000.000. Ahli warisnya adalah istri, bapak dan ibu. Tentukan bagiannya masing-masing. 
Penyelesaiannya :
-        Istri     :  1/4 x Rp.9.000.000  = Rp 2.250.000
-        Ibu      :  1/3 x Rp.6.750.000  = Rp 2.250.000
-        Bapak  :  2/3 x Rp.6.750.000  = Rp 4.500.000
      Total                                          Rp.9.000.000

Catatan :
1.         Harta tersebut terbagi habis
2.         bagian ibu dan bapak  asalnya adalah masing-masing1/3 dari total harta warisan (Rp.9.000.000), karena kasus al-gharawain maka bagiannya masing-masing adalah 1/3 dan 2/3  dari sisa (Rp 6.750.000) setelah diambil istri.

G.      Adat dan Warisan


Berbicara masalah adat dalam warisan setiap suku tentu berbeda cara pengembangannya. Adat Minangkabau misalnya dominan warisan jatuh kepada perempuan, sedangkan adat tapanuli dominan yang mendapat warisan adalah anak laki-laki. Namun perlu diingat bahwa, hukum adat dapat diterima jika tidak bertentangan dengan Hukum Islam. Dalam terjemah  Q.S. an-Nisa: 7 Allah menyatakan sebagai berikut
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”
( Q.S. an-Nisa: 7)

H.      Hikmah Warisan

Hukum Islam mengatur cara pembagian harta dengan adil dan benar sehingga bermanfaat bagi yang berhak menerimanya, halal dan berfaedah. Hikmah warisan ini sesuai dengan firman Allah swt seperti dalam Q.S. al-Baqarah : 118 yang artinya sebagai berikut:

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
(Q.S. al-Baqarah : 118)

Adapun hikmah warisan adalah :
1.         Menjauhkan sifat serakah
2.         Menjalin ikatan persaudaraan berdasarkan hak dan kewajiban yang seimbang
3.         Warisan dibagi seadil-adilnya
4.         Mendidik taslim (tunduk patuh) pada ketentuan Allah swt
5.         Menegakkan keadilan dalam keluarga
6.         Sebagai ibadah kepada Allah swt
Dengan adanya ketentuan Allah dalam pembagian harta pusaka maka Islam telah menetapkan keadilan misalnya :
1.         Melalui hukum Faraid, seorang tidak bisa memberikan hartanya sekehendaknya. Wasiat misalnya tidak boleh lebih dari sepertiga dari harta kekayaannya dan sisanya dibagikan kepada ahli waris.
2.         Anak laki-laki mendapat dua bagian, anak perempuan mendapat satu bagian. Hal itu menunjukkan keadilan karena tanggung jawab laki-laki lebih daripada wanita.
3.         Istri mendapat bagian harta warisan karena istri sangat besar jasanya dalam mendampingi suami.

I.         Warisan dalam Undang-undang No.7 Tahun 1989


1.         Dalam Undang-undang No.7 Tahun 1989 diatur penetapan mendapatkan dua pertiga bagian dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.
2.         Pasal 177, seorang ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada nenek ayah mendapat seperenam bagian.
3.         Pasal 178, ayat 1, seorang ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih, maka ia dapat sepertiga bagian, ayat 2 seorang ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.
4.         Pasal 179, seorang duda mendapat separo bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperenam bagian.
5.         Pasal 180, seorang janda mendapat seperenam bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak dan bila pewaris meninggalkan anak, maka ia mendapat seperdelapan bagian.
6.         Pasal 181, bila seorang meninggal dunia tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian.
7.         Pasal 182, bila seorang meninggal dunia tanpa meninggalkan ayah dan anak, sedang ia mempunyai satu saudara kandung atau seayah, maka ia mendapat separo bagian. Bila saudara kandung atau seayah, dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan anak laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah berbanding satu dengan saudara perempuan.
8.         Pasal 183 para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta waris setelah masing-masing menyadari bagiannya.

J.         Tugas


1.         Sebutkan hal-hal yang diselesaikan terlebih dahulu sebelum harta warisan dibagikan kepada masing-masing ahli waris !
2.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan :
a.          Ahli waris
b.         Hijab Nuqshan
c.          Hijab hirman
d.         Al-Aul
e.          Al-Rod
f.           Al-Gharawain
3.         Jika semua ahli waris ada, siapakah diantara semua ahli waris itu yang paling berhak menerima warisan?
4.         Jelaskan bagaimana pendapatmu, tentang hak waris :
a.          Anak angkat
b.         Anak yang berbeda agama dengan pewaris
5.         Jelaskan hikmah-hikmah hukum waris Islam !
6.         Apa perbedaan hukum waris Islam dengan hukum adat !
7.         Carilah kasus-kasus penyelesaian warisan dalam lingkungan kerabatmu atau tetanggamu, kemudian laporkan hasilnya.

8.         Bila ada seseorang meninggal, meninggalkan harta warisan, tetapi dia sebatangkara, tidak ada seorangpun yang akan menjadi ahli warisnya. Buat siapakah hartanya tersebut ?
Retweet this button on every post blogger

  • Backlinks

    Free PageRank Checker My Ping in TotalPing.com Religion Blogs - Blog Rankings RSS Search

    Blog Archive

    Tugas anda selesai setelah referensi dari blog ini? silahkan bookmark agar tidak lupa alamatnya untuk mencari referensi lain waktu... Bookmark and Share atau tekan CTRL+D dari browser anda!
  • Komentar Terbaru

  • Pengikut

  • Stats

    free counters